Tampilkan postingan dengan label Essei. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essei. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juli 2012

Mufakat Yang Duabelas

Bila menyebut kata taman maka yang terbesit dilingkar kepala, kita akan divisualisasikan rupa-rupa yang indah-indah. Untuk menjemput keindahan yang ada didalamnya kita butuh saluran untuk mencapainya, Sederhananya saluran tersebut merupakan sebuah kerja-kerja akan seni, tanpa kasat mata tujuan orang melakukan kegiatan seni sejatinya untuk menghadirkan sebuah keindahan.

Perlunya menjemput keindahan yang sebati di laman bermain kolektif , semisal bagi orang-orang Melayu lazimnya bertaburkan akan simbol-simbol yang berpunca laman bermainnya dan mustahak untuk dijemput, jemputan itu disambut dan hendaknya terus digesa menantang gempuran penjuru mata angin globalisasi yang terus menerjang, karena apa, arah mata angin yang satu ini memberi ketakutan tersindiri.

Dalam menjemput misi kesejahteraan yang berorientasikan pembangunan, ianya memberikan kontribusi yang nyata dan dapat dirasa disekitar kita, lihat saja wujudnya gedung gedung , fasilitas jalan, pertokoan dan lain semacamnya, tabiat membangun yang masih ranum diingatan kita dan entah berapa kali pulau yang satu ini menjadi buah bibir orang, Pulau Dompak, ianya akan menjadi sebuah pusat pemerintahan Kepulauan Riau yang akan disulap menjadi bangunan yang dahsyat dan tak kalah seperti negeri tetangga, biarlah orang senantiasa membicarakannya semoga Pulau tersebut Bertuah dan terus menemukan tuahnya.


Persoalan membangun maka didukung dengan adanya ketersediaan aspek finansialnya, karena jaman sekarang yang kita anggap berduit dan dapat membangun adalah pemerintah, karena memang mereka yang berduit dan ditugaskan mengurus duit rakyat. kalau para pengusaha sewasta, Toke balak , konglimerat dan lain sebagainya. Bilamana dahulu pemerintah yang kita maksud ianya masih berbentuk kerajaan, sejak dahulu lagi pemerintah dan orang kaya/datuk kaya bersama-sama berkongsi memajukan negeri. Berada di jaman kekinian orang-orang kaya yang ada pun kiranya masih memegang amanah yang tak tersirat itu .


Membangun simbol simbol yang sejalan dengan larian tradisi dibutuhkan kekompakan persamaan maksud dan tujuan, dalam menjemput diaspora arsitektur bangunan misalnya, Simbol Ke-Melayu-an , upaya serta dukungan untuk terus menggemburkan tanah dan menyiraminya diperlukan kesadaran dari berbagai pihak. Mungkin upaya kerja seni tersebut kiranya dapat membuka kembali kesepakatan yang berlaku di Negeri Segantang Lada ini. Dan sebenarnya sudah difikirkan oleh para pensyarah kebudayan dan peneliti yang ada, misalnya Mufakat Dua Belas, Kebudayaan Melayu Antara Lembaga Adat Melayu Provinsi kepulauan Riau dan Provinsi Riau yang ditandatangani oleh Gubernur kedua Provinsi tersebut mungkin masih segar diingatan kita.


Mengutip Mufakat Dua Belas itu, penulis tertarik dengan pasal yang keempat: “Akan terus dilakukan upaya-upaya untuk menggalakkan dinamika pencarian dan penggalian dan menemukan simbol-simbol dan jati-diri kemelayuan di Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Riau sebagai bagian dari penafsiran dan daya-upaya mencari kebaruan-kebaruan serta kesamaan-kesamaan kebudayaan yang terus-menerus di kedua wilayah sesuai dengan semangat zamannya”.


Itulah pagar yang dipaku bersebelahan dengan tanaman yang ada ditaman yang indah-indah. Untuk menikmatinya manusia dikenal arif mengaktualisasikan kerja-kerja itu sehingga membentuk sebuah pintu yang senantiasa terbuka dan ianya disebut tradisi. Konsep penikmat atas kearifan itu tak ada salahnya kita tujukan kepada salah satu kelompok sosial yang satu ini, ya kalangan seniman dan budayawan, karena tanpa sadar dengan leguh legahnya mereka menjadi titik tumpu berlari dan terus berlari menuju larian tradisi yang entah kemana ujung pangkalnya.


Penggalian larian itu terus digali dan diperlukan dukungan oleh semua pihak, karna mengembangkan dan mengekalkan (melestarikan) seni-budaya Melayu Kepulauan Riau khususnya akan terus sama-sama dicari formulanya dan bersebati dengan air muka laman bermainnya. kira-kira siapa lagi yang hendak membantu berlari di larian tradisinya menemukan hala yang berpunca ?.


Jermat
Tanjungpinang, Juni 2012

Rabu, 25 April 2012

Pekak, Iklan dan Sepak Bola

Musim bola seperti malam ini, semangnya dalam lubuk hati yang paling dalam Daud memang ingin sekali menghidap penyakit Pekak, pasalnya sudah menjadi tradisi, Tok kawan selaku orang yang telah dituakan dirumahnya akan menugaskan Daud untuk membeli Yang Hitam, bukan arang bakar atau abu gosok, tapi sebungkus gula dan kopi, tapi tabiat itu dibuangnya jauh-jauh, jangan sampai tidak ditunaikan anggapannya akan menjadi malapetaka, berdosa jika kita tidak membantu orang tua, itulah Daud yang tak seberapa hebat itu, sedara saya itu macam manapun sedaya upaya akan ditunaikannya, walau mata ngantuk, penyakit malas kukangnya lagi menjangkit apapun itu, sekali lagi itulah Daud memang anak yang baik berbakti kepada yang tua.



Rumah Haji Sangkut, TV 29 inci buatan jepang itu menjadi saksi warga kampung, begitu juga mereka berdua, pentas laga yang bergensi se Eropa itu menjadi pertandingan yang wajib ditonton para pecinta bola, semula sebelum acara berlangsung kiranya penonton disuguhkan iklan-iklan yang bergilir, bukan saja iklan tapi, diantara penonton.



"Kita percayakan saja sama pemerintah pusat" pekik seseorang. Dialah Wak Sikut, baru saja pulang kampung, selama ini beliau merantau jauh kenegeri jajahan Belanda itu, Berbicara transportasi masal dinegeri bekas jajahan Belanda ini, katanya lantang mengkisahkan beragam cerita bahkan pemahaman yang multi tafsir bahkan multi dimensi, kiranya orang-orang yang banyak menumpuk hingga tumplek menjadi satu, sudah pasti memiliki perbendaharaan para cerdik pandai, begitu juga sarana dan prasarana yang mendukung. sehingga semua itu dapat berfikir keras dan mencari jalan keluar atau minimal mengurangi dampaknya, tapi itulah potret negeri ini, kata orang yang tinggal di belakang singapura "habok".



Kemudian beragam pembicaran misalnya ada politisi yang ditunjuk untuk memimpin pemain senior sepakbola negeri ini, yang lain dan tak bukan masih keluarga besar PSSI, disana sini protes berdatangan, katanya alangkah lebih baik dipimpin oleh orang yang tak ada sangkut pautnya dengan politik, apa mau dikata , bola menjadi salah satu kenderaan yang baik ketika ini untuk melaju kehadapan, entah melaju kemana agaknya, sudahlah mari kita sekali percayakan kepada orang yang telah ditunjuk.


Daud dan Ramli yang mendengar diam seribu bahasa, katanya " ini kelas berat, macam kita Ramli tak dapat nak gaya", lalu lampu pun mati, nampaknya belum selesai kita bicara soal masalah transportasi yang entah kapan selesainya, PLN pun masih memberikan penerangan bergilir, bukan pemadaman bergilir seperti informasi petugas radio lazimnya itu.


Wak Sikut tampak berang, tapi apa dikata Haji Sangkut satu-satunya orang yang memiliki TV dikampung ini gratis lagi, mari kita berdoa semoga Haji Sangkut diberikan kemakmuran lebih membantu yang lemah, dijauhkan malapetaka, dapat memperbaiki Gengset (mesin listrik) supaya dapat menyala lagi. karena apa jika orang-orang kampung berdoa dan mendoakan kebaikan Tuan yang punya kemampuan, insyaallah diberikan kemudahan, jika kedua belah pihak tidak saling mendoakan . banyak memaki hamun dan saling menyalahkan dan no action, alamat kapal akan tenggelam ye tak Daud, kata Ramli bukan saya ye Tok.



{d}april 2012

Jumat, 09 Maret 2012

"Redefenisi Kesantunan Dalam Dominasi Bahasa Diluar Bahasa Melayu Riau"

Pekanbaru yang dahulunya merupakan sebuah Dusun Senapelan, kini terus muncul dengan beragam suku bangsa dengan keramah tamah dan kesantunan, menjadi kota perdagangan yang masyur dan terbilang hingga kini, ianya sudah dikenal sejak jaman dahulu lagi, dan dengan adanya kesantunan tersebut pekanbaru terus tumbuh dan berkembang ,menjadi titipan marwah dan nama besar orang orang dipelosok kampung-kampung di Riau.


Dengan adanya pengakuan kota perdagangan yang masyur itu, segudang cacatan budaya yang ikut serta mengkupas habis dari rempuhan fenomena-fenomna yang ada, ada baiknya kita berkunjung kesalah satu laman tersebut. Mengutip Edi,Sarjani,Essei,Riau Pos ia mengatakan"..Dengan menetapnya para pedagang tersebut di Pekanbaru lalu mereka melahirkan generasi (anak cucu,cicit). anak cucu, dan cicit tersebut menjadi orang Pekanbaru. Masing masing pedagang yang datang dan menetap di pekanbaru membawa bahasa serta tradisi dan asal daerah mereka masing-masing. lalu mereka wariskan kepada anak cucu dan cicit mereka. Disitulah mulai kaburnya bahasa, tradisi asli pekanbaru yang bersal dari kerajaan siak".


Adanya pergulatan dan interaksi sosial yang sedemikian rupa, dominasi bahasa Siak, Gasip menjadi memori yang indah di senapelan ketika dahulu dan kini ianya menjadi sesuatu yang baru ya produk baru, melebarnya hal tersebut bermula adanya kesantunan yang memang telah mengakar di ranah tanah melayu itu. Namun beragam orang mendefenisikan kesantunan sehingga menjadi senjata rahasia orang lain untuk menjadikan granat yang siap untuk diledakkan.


(1)Peran pemimpin yang tak dapat me-Melayu-kan anak bininya menjadi, bahaya laten, budaya itu tumbuh lebih cepat dan murah untuk dibina menjadi suatu warisan kebudayaan, di mulai dari lingkungan keluarga, ia akan membawa genetik,fisik,dan beragam hal lainnya, termasuk agama, budaya dan bahasa.


(2) Perlu adanya wira yang berjiwa kampungan ditengah tengah rempuhan masa depan yang dahsyat, kampungan disini adalah cinta dan kenal akan berbagai identitas kemelayuan pastinya.dan masih menjadi resam yang membina tapak ingatan zaman berzaman.

(3). Dibutuhkan 10.000 orang yang moderen berjiwa yong yong dolah,Dan makcik sakdiah, terpekik pengkau di kota pekanbaru, ceruk pasar, tepi longkang parit, tepi rumah dan lain sebagainya berbicara dan berbahasa melayu.

(4)Berbicara melayu di negeri Melayu adalah tuah, walau berbicara melayu dinegeri melayu kene jual di pekanbaru, same same jadikan itu fatwa sesat.

(5)Pesan orang tua kami yang menurut penulis layak untuk dijadikan panutan di Pekanbaru, masih terngiang ngiang hingga kini ''Aku termasuk orang yang tak perduli pekak badak,sampai saat ini masih memakai bahasa kampungan itu, dipasar dikantor lantaklah situ, anak bini ku aku larang memakai bahasa yg lain itu, biarlah menjadi hati dan batinku damai dan merasuk sampai ke ubun ubun, ingat itu wan'', beliau orang Kepulauan Riau yang bernaustatin hingga kini.

(7)Kesantunan dapat diredefenisklan kembali menjadi sebuah fatwa yang mesti disimpulkan kembali, diantar umat berbudaya dan agama dimana ianya memberikan laman bermain yang baik.

Dan masih banyak lagi, peran lembaga-lembaga yang bersentuhan langsung dapat kita jadikan tempat sekedar bertanya dan berbicara, sedikit banyak dari pada taka ada. UU Hamidy pernah berpesan dalam judul bukunya Jagat Melayu Riau dan saye menangkap pesan pak Yusmar Yusuf: ada apa dengan ''tabiat Melayani dan Dilayani''



Ttd

Irwanto,08032012

Minggu, 26 Februari 2012

Reuni dan Memberi di Laman bermain Akper Griya Husada Batam Yess

Berbual tadi di telepon genggam (Red: Handphone) bersama adek tingkat serasa berada di wahana bermain, ya berada seperti di jantung laman bermain AGH, serasa jaringan terlpon ikut tertawa besar, marilah kita tertawa sebelum tertawa itu kena pajak sinyalnya. Entahlah seminggu kemudian seorang adik tingkat berbual-bual pula di laman bermain cyber maya, laman bermain yang satu ini tak kalah hebatnya, facebook namanya.


Telpon genggam merek T10, Samsung, dan Nokia berbentuk pisang masih menjadi alat telekomunikasi handalan sewaktu kami berada di bangku kuliah AGH, kartu Simpati yang menjadi primadona seharga Rp 300.000-600.000,- masih menjadi barang langka, hanya anak-anak toke balak yang punya, sampai sampai sewaktu anak AGH praktik lapangan di RSJ Pekanbaru, semua menatap kami dalam dalam, macam betul aja, padahal apa tidak aja wak.


Detik detik berlalu menit tidak terasa panjang, terlintas dari gurauan penuh hanyut canda dan tawa, dia (red: adik tingkat) bertanya dan menanyakan "kapan diadakan lagi reunian, kak" menyederhanakan kata "Reunian" semua itu berasal dari bahasa Inggris,berasal dari kata "unity" artinya bersatu ditambah dengan imbuhan re- yang berarti ulang atau kembali dan sederhanya, atau berasal dari kata re-dan uni yang artinya dapat di artikan kembali bersama atau berkumpul.


Red; Unity akan membawa berbagi cerita kenangan manis, ia juga memiliki termin saling mengenang apa apa yang masih menghinggap di kepala ini, ya mengenang apakah itu berbagai asuhan keperawatan, sewaktu mengenal bagaimana mengintervensi, mengimplementasi atau mengevaluasi, namun tak lebih dari itu semua, benar bukan.


Dalam dunia islam, termin kata reunian tak ubahnya dengan istilah silahturahmi, silahturahmi dengan sesama, bertemu dan saling mengenang tak ubahnya kita sedang memainkan Kaset,cd yang di putar untuk kembali melihat ,merasa dan mendengar, baik itu memandang sesuatu kenangan atau apalah, sulit untuk di uraikan, karena kenangan adalah harta karun yang tak ternilai harganya. baik yang dibawa sendiri sendiri , beberapa golongan orang atau kelompok-kelompok.


Memahami padanan kata silahturahmi antar sesama, baik itu sesama mahasiswa yang sudah berpuluh tahun, atau kemaren sore baru bertemu, yang entah dimana kini rimbanya, apakah mereka sudah sukses, belum sukses atau ada yang sudah pindah jadi warga negara lain, yang ini saya tertawa, haha


Mengenang bukan saja ada pada diri kita sesama mahasiswa saja, tapi juga guru, banyak jasa-jasa beliau untuk mencerdaskan, memberi ilmu, memberi tugas tugas bahkan memaki hamun segala, mengenang guru memiliki arti menghormati, apa jadinya kalau guru kita masih ibu atau bapak kita, maka tak dapatlah kita belajar menyuntik, menghitung impus dan sebagainya, tak jadi pak mantrilah saya.


Kesimpulan menyederhanakan kata Reunian, menurut saya bukan sekedar temu kangen makan-makan, foto-foto lepas itu bubar, membualkan titel DR.PHD, N, MSC semata, dan setelah selesai acara panitia banyak hutang dan ketua pelaksana berkerut kening, tapi reunian meski membawa pesan dan tanda, ya mesti memiliki tanda tapak ingatan yang bukan sekadar dari itu semua.


Dibutuhkan sentuhan tangan tangan kreatif dari makhluk primodial AGH, untuk memberikan wahana bermain ini lebih bermakna, tidak sekedar simbolitas semata, karena tujuan bermain disini tak enaknya perlu memiliki rasa tanggung jawab dan moral bagi makhluk yang ada didalamnya. sesuatu organisasi apa pun bentuknya kata ilmuan orang yang berkulit putih, "sebuah organisasi itu meski memiliki rasa kebersamaan", agaknyalah. kalau tidak ada dan tidak memiliki tujuan yang jelas mari kita bermain bola, walau bermain bola ada tujuannya yaitu menyepak bola dalam gawang. "gooooooool" .


Singkat cerita mari kita bersama-sama membuat catatan kecil di benak masing-masing, dalam hati saja pun tak apa, siapa pun kamu, engkau atau aku, mereka atau dia, yang pernah menginjakkan kaki di AGH, sebentar atau lama, mereka adalah bagian dari sejarah hidup kita, dengan berbagai kelemahan dan kekuatan yang merasuk di dalamnya, menjadi sebagian sejarah yang melekat di tapak ingatan kita, bukan bicara soal kenangan, tapi memberi adalah sesuatu obat yang mengobati dan menyembuhkan rasa ingatan kita. karena memberi itu akan mengkontruksi bangunan bangunan tapak ingatan kita lebih jauh, memberi sesuatu yang bermanfaat walau hanya sekedar say hello dan hai semata.



Depok, 26 Februari 2012
catatan reuni untuk Alumni AGH Batam

Jumat, 24 Februari 2012

Sang Tabib

Entah dari mana asal muasal kata Tabib, kata yang hampir punah dan langka jika kita dengar di telinga yang ada di zaman serba internet ini, pengertian yang baku tentang Tabib ini apakah benar termasuk ke dalam Penjaga Tradisi sesuai apa yang dikupas habis UU Hamidy semisal Dukun, Bomoh, Kemantan, Pawang, Guru silat. Mungkin diantara pembagian ini Tabib termasuk kedalam saudara terdekatnya sama-sama ahli pengobatan.


Sebutan Tabib,Dukun atau Bomoh masih awam di telinga orang-orang Melayu, jika di ambil garis lurus sejak jaman datuk nenek moyang dahulu sampai ke jaman serba enter dan pandai membuka facebook, memang ada benarnya tradisi waris dari leluhur itu secara tidak langsung memilki peran ganda satu sisi masuk kedalam termin pengobatan dan satunya lagi ianya menjadii pagar/ benteng kampung dan kearifan ceruk tradisi yang memang sudah di aminkan sejak lama.


Bomoh misalnya ketika dahulu posisinya sangat disegani dan tidak dipungkiri menjadi seseorang yang dipandang penting menjadi perujuk alternatif oleh para Pemangku adat, Teraju Kerajaan, atau mungkin beriringan dengan Para Ulama sekalipun.


Dengan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat , mereka juga dipandang menjadi orang yang berkepatutan menjaga kampung atau kemaslahatan orang banyak di wilayahnya, walau kesan magis menjadi hal utama yang ketara dan hal -hal klenik akan menjadi buah pembicaraan, karena metode pengobatannya pun masih terbilang klasik.


Lalu dimana letak sungsang antara seorang Tabib dan Bomoh,?, Tabib ini apakah benar kita akan menemukannya dan identik pada bilangan dunia Arab, perkembangan ilmu pengetahuan yang terus bergelinding mara kehadapan menyentuh ketamadunan Islam. Di dunia islam tak kalah hebatnya mengusung para ahli pengobatan yang terus piawai mencari dan mencari alternatif pengobatan,sebagai contoh pengobatan ala nabi yang disebut Tibbunnabawi apakah benar merupakan asal muasal kata Tabib?.menurut literatur sejak masa kejayaan Turki otoman saja misalnya para Tabib kabarnya sudah banyak menulis ilmu pertabib-an dan temuan naskah-naskah penemuan pengobatan kuno itu telah teridentifikasi pada abad ke 15 dan ke-16.


Jika dikaitkan dengan adanya kesamaan tamadun Islam yang ada di puak melayu,apakah masih ada sangkut pautnya dan berimbas juga, kalau ditelisik lebih jauh memang adanya naskah-naskah perujuk dan menjadi petunjuk bahwa ilmu pengobatan yang ada di tanah melayu memanglah ada, sebut saja salah satunya ada kitab Cempaka Putih kitab warisan Kerajaan Riau Lingga ini berisi tentang buku herba alami, beralam dari plasma nutfah yang ada di sekitar ceruk dan lembah tanah Melayu tentunya.


Pada Persuratan Raja Ali Haji yang sudah ratusan tahun itu dipaparkan juga adanya seorang Tabib yang sedang mengobati sakit disekitar penduduk tempatan di pulau penyengat, tergambar jelas dialog yang dituliskan RAH tentang bentuk pengobatan sederhana yang dialaminya,atau Sang Tabib sedang mengobati Sahabatnya Von de Wall yang tengah sakit.Dengan adanya dokumen atau naskah-naskah itu berarti keberadaan Sang Tabib sudahpun melintang pukang menjadi orang yang berpatutan berada di tengah-tengah Kekuasaan Raja-Raja Melayu ketika itu.


Bicara tentang ilmu pengobatan sangatlah luas dan tak pernah akan habisnya, karena penyakit akan senantiasa bersenggayut dengan tubuh, sebab sakit dan sehat merupakan suatu fenomena manusia, namun bagaimana caranya kita mesti survive meliwati paparan akan sakit yang kelak akan menimpa kita, sesuatu yang terus arif di kaji ulang,bagi para orang yang patut, atau cendekia-cendekia yang handal pastinya, sebut saja orang cina, india atau orang-orang yunani dan mesir kuno sampai detik ini puak mereka terus mencari dan mencari mengiringi sebuah investasi Kesehatan yang dahsyat itu.



2011

Jumat, 17 Februari 2012

Berjasa

Selagi kita hidup dan masih menjadi makhluk sosial selagi itulah kita akan senantiasa membicarakan tentang jasa, umumnya jika berbicara soal jasa kita akan mengkait-kaitkannya dengan jual beli semata .namun lebih dari itu, berjasa kepada Sang Maha Pencipta dan urgenci kita hendak berjasa kepada Orang tua, guru dan lain lainnya menjadi sebuah persoalan yang benar-benar penting di keseharian kita.


Pengutamaan diri berjasa kepada Allah, harus lebih diutamakan. Karena manusia adalah ciptaanNya dan diciptakan memang untuk mengabdi dan berjasa kepada Nya. Dalam Islam berbakti dan berjasa kepada kedua orang tua memang memiliki tingkat urgensi yang demikian tinggi.


Sederhananya jika kita hendak berjasa kepada orang tua, kita akan berupaya melakukan perkara perkara dan prilaku yang baik kepadanya orang tua , sehingga rasa bakhti kita juga menambah nilai moral kita , tidak lepas juga dari permasalahan berbuat baik dan mendurhakainya. Perkara seperti itu ditegaskan juga dalam firman -NYa (yang artinya) :

“Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)


Adapun disandingkannya prihal berbakti kepada orang tua maka jelaslah jasa jasa yang telah diberikan kepada kita sebagai seorang anak tidak tergantikan nilainya dan tidak terbalas, maka itulah peranan orang tua memiliki tempat yang penting. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:


“Seorang anak tidak akan bisa membalas budi baik ayahnya, kecuali bila ia mendapatkan ayahnya sebagai budak, lalu dia merdekakan.” (Dikeluarkan oleh Muslim)


Bagaimana jika berada di lingkungan masyarakat. Raja Ali Haji (RAH) sastrawan besar abad ke 19, menukilkan dalam kutipan pasal ke – 11pada gurindam 12 buah karyanya;

Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa


Dalam kehidupan bermasyarakat , jasa sudah menjadi barang yang tak asing dan memiliki tempat , berjasa kepada yang sebangsa memiki makna bahwa yang membesarkan bangsanya siapa lagi kalau bukan orang-orangnya, yaitu memiliki persamaan nasib sebangsa , maka dapatlah ia memberikan berbagai sumbangsih yang diberikan fikiran tenaga bahkan moral, sederhananya siapa lagi berbuat jika bukan kita(bangsa) sendiri , ariflah tulisan RAH yang mengkait padankan pesan moral yang terkandung dalam bait-bait gurindamnya.


Para ilmuan terdahulu sampai sekarang telah banyak membahas nya. Beberapa hal yang patut dan bisa kita ambil kira dan dapat kita telusuri dalam menyerderhanakan arti jasa itu sendiri.



Pekanbaru,Ahad 11 Februari 2012

Minggu, 01 Januari 2012

Membaca Bahasa Ibu

Mungkin kita sebagai penutur mempunyai peran dah tanggung jawab demi keberlangsungan bahasa lokalitas kita, prediksi kedepan mempertahankan atau apapun namanya menjaga bahasa tersebut memanglah tidak berlebihan, namun dengan adanya probabilitas yang ada, bisa saja hilangnya kearifan itu datangnya justru berawal dari rutinitas penutur penuturnya.

Hilangnya sebagian kosa kata, semisal tidak lagi digunakan menjadi ketakukan penuturnya, menempa masa depan nasib bahasa yang terus berdiaspora, adanya pakem deminasi bahasa yang terus bergelut, memberikan timbang-timbangan apakah masih bisa dipakai oleh penuturnya dari generasi ke generasi. Keberlangsungan akan intensitas bahasa tersebut sederhananya di tandai dengan terpenggalnya kata, atau satu kosa kata yang hilang, atau tidak dikenali lagi genarasi yang berikutnya, sehingga tiada salahnya hal-halnsederhananya itu dijadikan petanda.

Ironis memang, jika kita menimang-nimang bahasa lokal yang terus terpapar dengan adanya tabiat globalisasi bahasa semisal bahasa Nasional, lambat laun akan memberikan dampak yang bisa saja memberikan pengaruh dan nafas bagi kearifan akan bahasa lokal, ketakukan ini menjadi sesuatu yang normatif dan masih terselubung belum dibuktikan dengan penelitian yang empirik.

Kesadaran dalam membaca fenomena tersebut, pilihannya adalah Bahasa Nasional tetap dijunjung tinggi menjadi alat komunasi bahasa persatuan, walaupun bangsa ini memandang bahasa Melayu ini tidak awam seperti apa yang terjadi dalam lintasan sejarah terdahulu, karena sebenarnya keberagaman bahasa Melayu memang banyak corak ragamnya, namun sejarah telah memberitahukan ternyata tetap di topang dengan bahasa Melayu, saat ini Bahasa yang dimiliki berbagai negara tersebut sudah terpilih (Melayu/Indonesia) karena adanya akar bahasa dan di aminkan oleh bangsa yang katanya serumpun.

Bagaimanapun ada point penting yang mesti diambil dari membaca bahasa ibu, dan fenomena tersebut jika kita masuk kembali ke laman bahasa Melayu khususnya, tak bisa dipungkiri perbendaharaan keberagaman itu merupakan khazanah yang berlnilai untuk puak Melayu, maka kita akan dikenalkan lagi dengan sebutan bahasa pasar yang sering dan masih dipakai dan masih digunakan sampai saat ini, serta masih juga berlaku di lingkungan. Bahasa ibu tersebut bahkan tidak akan kita temui di KBBI atau Kamus lainnya, walau sedikit banyak padanannya pun masih bisa kita kaitkaitkan.

Peran deminasi tersebut memanglah ada, disini dibutuhkan strategi yang baik untuk keberlangsungan nasib bahasa ibu. sederhana berfikirnya tetap memakai saja khazanah bahasa Melayu itu. Tetapi, harus dengan strategi kekinian yang padu. Contoh yang pernah disampaikan oleh Abdul Malik.SPd,budayawan serta Pemakalah Melayu di Kep.Riau : "kata-kata tersebut bila diucapkan menggunakan lisan "pala" padahal semestinya ada huruf (R) maka kita jika mengacu kepada sistematika penulisan tertulis "palar". Itu artinye kita juga sudah menyelamatkan kata-kata tersebut secara kontinu".

Tidak bisa dipungkiri adanya kultur dan tabiat yang mendasar, bahwa orang-orang melayu kalau boleh saya berpendapat, lazimnya memiliki kekurangan atau samar-samar menyebutkan huruf (R), ini sah-sah saja berlaku di puak Melayu, jika kita berwisata dengan lintasan sejarah dan membaca dari orang-orang dahulu, misalnya kita merujuk pada zamannya Raja Ali Haji sastrawan Besar Melayu (RAH), pada kenyataannya, di rujuk dari perspektif sastra tulis yang berkembang sezamannya kefasihan menyebutkan huruf R itu memiliki keseragaman dan kesamaan dalam penyebutan kurang lebih samalah di zaman ini,

Kesamaran tersebut dalam kesehariannya menjadi sesuatu yang lazim, dari dahulu lagi awamnya bangsa ini telah menggunaan huruf-huruf Huruf Arab Melayu, kebiasaan menyebutkan misalkan huruf "Ghain/ Gho". dan dalam tulisan arab melayu pun kedua huruf tersebut sudah mewakili huruf R, entah ini benar atau tidak , penulis berpendapat ternyata ini merupakan kelemahan dari tulisan arab melayu , sehingga dalam lisan dan tulisan kebiasaan tersebut telah terjadi turun temurun,dan menurun secara genetik, terus kita didedahkan mengengekalkan pada huruf "Ghain/Gho/ Ra".

Namun upaya pengekalan bahasa ibu dalam lisan dan tulisan, sudah pun seimbang dan saling menutupi kekurangan, walau dalam alih bahasa menjadi abjad yang sekarang ini, telah mengalami penyesuaian yang telah sesuai dengan kesepakatan ranah kebahasaan, itu artinya untuk mengekalkan kata-kata yang sudah ada itu, merupakan sebuah strategi yang sederhana karena mereka juga tetap menuliskannya dalam tulisan yang lengkap, dengan bersabit hal demikian sampai detik ini pun upaya-upaya mendapatkan tempat (Umum) dalam strategi tersebut saya kira terus dilakukan.

Jadi tidak berlebihan terpulang lagi diberikan pilihan kepada penutur yang lain, dan sesiapa saja yang berkepentingan disana, tetap memilih menjaga bahasa lokalitas biar tetap eksis dan bergulir memapah zaman, bagaimana pun kita mesti arif membaca dominasi yang tetap ada, atau tetap diam tanpa melakukan apapun juga, semua itu membutuhkan sebuah kesadaran dan tindakan , karena bagaimanapun dengan adanya keberagaman ( Bahasa ) itu juga membuat Bangsa ini di akui dunia.

Bangsa ini memang besar di rekatkan oleh laut dengan beribu pulau-pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dan hebatnya karena bahasa ( Melayu dan Bahasa Indonesia ) juga menjadi salah satu perekat bangsa yang besar ini tetap besar.

Tabek.
al Fakir
Irwanto,31Desember 2011

Selasa, 01 November 2011

Tatahan Anasir Kahyangan

Beberapa waktu yang lalu sepulang dari Jakarta tempat dimana negeri yang selalu disibukkan dengan tabiat Demo, alias mesyuarat yang dah terujung, tabiat dimana orang lapar sepanjang suap, tabiat negeri berasap yang selalu berkenduri di tengah jalan dengan gumul macet sepanjang zaman, tabiat tesampok makhluk kayangan hingga melompat jauh kelangit, membuat mata, hati, hidung, telinga juga otak,letih dan penat, walaui disana ada juga harta karun bagi orang-orang yang mencari mimpi, leguh legah itu memperkuat tabiat rindu nak bertingkah melempar sigau di ujung tanjung,di pelantar kampung menjadi sesuatu yang normatif dan terbilang sehat dalam segi segau bentangan kerisauan.


Nuansa rindu angin, debar ombak dan udara lembab di ceruk kemudi primodial tanah asal atau kelahiran, menjadi talibun yang senantiasa tak penat di ungkai, selalu di pendam dan membuncah di lorong sempit renungan , menjadi hal yang kesumat senantiasa bersenggayut di pelupuk mata., apalagi bertembung dengan makhluk Tuhan yang dapat menegur dengan santun dan sopan, berpusu-pusu dengan jengah sigau budak-budak yang tak kenal diam dan berdiam diri dalam bentangan santun bersama akrobatik pendatang serantau.


Sesampai di bandara Hang Nadim nan megah, bandara yang berkelas di Kepulauan Riau, saban tahun selalu menjadi tempat pemberangkatan Jamaah Haji orang kampung kita,kampung tetangga atau kampung lain para pencari suaka ,bersaf-saf datang dengan segala tabiat datang,dengan sekotah-kotah orang itu entah kenapa mata ini berdengung-dengung, semangkin lama jika di tenung-tenung ada bendera suaka yang berkibar di sudut ceruk bandara ini semangkin lusuh dan berkarat, memberi coretan dinding penunjuk rumah seakan terasing dan inilah Aku(Melayu) terpasak di bawak pokok senduduk berada tak jauh dari pandangan orang kita.


Bendera dengan kibar malu tapi mau itu, menepis tudingan yang ranggi sebab tersebab sudahpun mengokah kemajuan beralaskan tapak tanah dan lubuk orang kampung kita, siapa yang tak hendak dengan fenomena kemajuan, bangga dengan kampung menjadi kota yang di tonton orang ramai, ditegun negeri seberang dan akhirnya kita dapat berlari menuju ujung dan tepian janji , kemajuan yang terus mara kedepan hendaknya dapat memberi rindu rinduan dengan kearifan lokal, dan kelak entah kapan dapat beriringan sekaki seayun selangkah segerak menjulang penanda atau simbol atau penunjuk suaka rumah kita, semisal dapat menitip tunjuk langit yang menunjuk langit memberi tahu inilah Aku.


Entah berapa kali kaki ini mengayun di gedung petak besar memanjang dengan lagaknya, beserta susunan pesawat terbang layaknya barisan langgam ikan bilis, serasa datang di kota kahyangan dengan tatapan modernitas, yang menurut kami fakir ini lamat-lamat tersebit ada kabur yang menunjuk rindu ceruk dengan nilai seni dengan dekorasi,simbol atau umbul-umbul nafsu puak kita, dimulai dengan bentuk fisik gedung ini pastinya sudah dimeja hijau kan semenjak gedung ini pertama kali diniatkan untuk dibangun, sehingga tak bisa di pungkiri mata pun akan menjadi hijau atau memang terlampau banyak mata hingga samar-samar dan susah memfokuskan, yang pasti disana juga ada orang kita sama-sama mempunyai titipan itu,atau entah juga orang kita ada tapi pada saat naik meja mereka gagap meneropong.


Sehingga saat ini dengan teropong mata batin sekalipun susah menemukan semisal lebah Bergayut, sebuah benda yang bersenggayut berwarna kuning lazimnya bersusun berasal dari kayu, atau kembang sedaun motif hiasan gedung atau rumah, ada juga siku keluang hiasan langit-langit gedung atau rumah , dan satu lagi tak kalah uniknya mungkin kita awam dengan keberadaan Awang Larat, lazimnya berada dikiri kanan berselonjor menjadi pertanyaan besar entah kenapa sebuah motif hiasan bunga yang terpancng keluar diselasar papan disebut dengan kata larat, entahlah kearifan nenek moyang kita yang pasti mempunyai segudang kitab filosofisnya.


Semua itu hanya sebagian penanda rumah atau bangunan publik yang membuat mata ini menjadi rindu, ya sekali lagi rindu akan penunjuk puak yang lumrahnya dulu ada tersebar di pulau Segantang Lada,bahkan adanya keberagaman dengan daerah-daerah lain seperti Riau yang sama-sama mempunyai mata yang sama dalam kepungan rindu ini,
Dan entah kapan mata ini diserakkan dengan penunjuk puak kita,entah itu dengan polesan atau modifikasi yang sedikit saja diberikan ruang aar dapat mencoret dinding laman ini dengan kanfas seni yang sudahpun dibekali orang-orang terdahulu,sehingga jika itu cantik dan bermakna maka dapatlah di ambil kira,jika buruk tak usahlah, namun yang pasti semua itu menurut kami yang fakir tidak ada salahnya memberi tapak ingatan akan hiasan rumah diruang tamu, beranda depan, beranda belakang atau tersebar di sudut-sudut rumah,sehingga tamu yang datang sudahpun tahu jika ia mengenal betul datang dirumah kita.


Kepulauan Riau,November,2011

Jumat, 28 Oktober 2011

"Pulau Berhala, Mengingatkan Akan Cogan Pusaka"

Bicara kepulauan di negeri ini,maka kita akan mengenal istilah indo - melayu istilah sebutan priode klasik antara abad 7 dan 15 M, disana ada Hindu dan Budha berperan menatap kepulauan muasal pulau kita nun jauh kebelakang, Alfred Rusesel Wallace juga Antropologi Inggris memaparkan bahwa Sumatra termasuk kedalam Kepulauan Melayu atau istilah lain saat ini dinamakan menjadi Kepulauan Nusantara, lalu ada pula yang menyebut tanah ini dengan sebutan "Pulau Emas", orang india utara juga mengenalkan muasal tempat tinggal moyang kita dahulu dengan istilah'"suvarnadipa', orang tamil juga tak mau ketinggalan "javaka" mereka menyebutnya, dan yang pasti apapun sebutannya disana tentunya ada orang-orang Melayu.


Sriwijaya dengan sederatan nama besar dibelakangnya masih menaruh ziarah kepada orang melayu dan tentunya masih menjadi mahkota berpualam di tatapan bathin para raja-raja ketika itu,karena ada jantung hati yang menuai padi bukit siguntang, lalu jambi pun melebar rindu menapak dipangkuan pulau emas itu,ya ada pulau Bangka juga menapak dekat dan tentunya kerinduan pasti ada pada berhala yang mengecap rasa.


Lalu apakah ada hubungan Sumatera dengan Pulau Berhala? Apakah hanya Alkisah atau hikayat semata ?, kita ketahui dipastikan sejak berabad-abad lamanya ia ikut serta menonton puisi zaman dengan epos zaman berzaman , seperti hardisk komputer yang senantiasa menyala, disana ada populasi yang senantiasa membentangkan peta corpus melayu, naskah-naskah kuno yang terserap para penduduk pribumi menjadi sebuah alasan yang ranggi untuk ditenung-tenung apakah aku, kau atau mereka memiliki batas atau keterbatasan menidurkan pulau yang lagi naik darah ini.


Raja-raja melayu sudah pasti mengenal betul rahim suaka ini, keterikatan itu pasti menjadi memorial atas istana sentrik tentunya,Riau-Lingga-Johor menjadi awam mendengar cerita zam alakazam daerah parutnya ini.dan saudara se-Semenanjung Melayu juga ada kuadapan yang memapah Melaka dengan Kingdomnya, ya ada Raja dan Rakyat dengan kearifan dan daerah warisnya yang bermarwah lagi berbilang kaum itu.


Mungkin tanggapan yang di tulis Yusmar Yusuf dalam bukunya Juwita Melayu ada sedikit yang memberikan kearifan siulan sekedar tanya jawab ia memaparkan sejak masa kerajaan Riau-Lingga-Johor saja sudah adanya penguasaan akan harta karun, imbuhnya "siapa yang menguasai sumber timah, dia akan menjadi kerajaan yang kuat dan disegani", berarti negeri-negeri yang memiliki timbunan hasil alam yang melimpah wah, masih menjadi bual-bualan rindu adanya kekuasaan, atau mungkin ia masih berbentuk harta karun atau harta marwah ?, agaknya sejak jaman para Raja-raja hingga ke jaman Yong Dolah tokoh hikayat dari Bengkalis,Riau itu yang mungkin saat ini sudah memakai handpone sekalipun, apakah cerita itu memang masih terus diulang-ulang ?.


Untuk itu atas nama kerinduan akan hamparan pulau ini ,apakah kita harus bertemu dengan Keresidenan Riouw dan bertemu dengan nenek moyang kita yang hidup di tahun 1899, atau kita mengintip para kolonial belanda dan inggris yang memancung tanah ini dengan Mantra Sakti 1824,1826 dan 1828 nya, atau kita bertemu dengan orang-orang kalah yang mengibas-ngibaskan bendera kecil ketika Datuk Suaka di Daerah Supralokal ibukota bernama Indonesia saat ini, pada tahun 50-an yang memindahkan kertas kerja Riau bernama pulau ke Riau daratan, mungkin di sana ada kunci dan berangkas yang berisi selembar kertas atau suaka yang mengenang.


Sekali lagi jika masih sempat berandai-andai, tidak ada salahnya kita menanyakan tuan tabib sejarah yang tersisa saat ini di kampung kita Kepulauan Riau, ada Tuan Aswandi Sahri yang kenal betul dengan lembaran ziarah sejarahnya, dengan kata lain jangan lupa juga dapat menghadirkan dengan dongak kepala untuk Tuan Politikus Maknyus yang tak mau saya sebutkan namanya harap maklum, kerja-kerja negosiasi sudah kelat terjadi begitu lama, orang-orang kita katanya piawai dan tunak bernegosiasi atau "Berunding" bahasa kampungnya, kalau tak percaya Tuah yang sudahpun menancapkan kerisnya dengan berdarah sekalipun menyempatkan untuk berunding kepada Jebat.


Belum ada kata terlambat, sebelum bercekau-cekau dengan bunyi talibun yang sumbang, dengan nada yang terus sumbang itu lalu puaka pun datang menari-nari bersama tepuk dan hentak kaki, kitapun terus naik ke alam irama dayu yang jahanam, berzapin ria dengan kayuh orang kalah perang, maka Datuk Suaka yang tidak bertanggung jawab itu menunggak kamr bersama telunjuknya yang sakti lagi mandra guna itu mereka akan menenggelamkan mabuk .


Pulau Berhala
negeri ini berendam laut
bertebing selat berhamparan pulau
engkau jinak di suaka tanah bunda
kisah mu mengingatkan aku pada Cogan pusaka
dan ianya terus bermimpi kembali


al Fakir
Irwanto
Jln Tanah Merdeka,jakarta 1 Oktober 2011.

Selasa, 14 Juni 2011

Kolom disebalik Batam Pos

Berbicara Koran yang satu ini menurut saya akan lebih menarik jika dibaca setiap hari minggu karena ada sesuatu yang membuat saya tergerak menanti cerita dan suatu paparan kisah di seputaran lingkungan daerah saya,koran yang ada dan terbesar di Kepulauan Riau itu tidak lain adalah Batam Pos,yang katanya gedungnya itu menjulang tinggi tidak jauh dari Masjid Raya Batam.


Jika masih di seputaran Kepulaun Riau saya mesti bertanya kepada loper langganan koran,untuk bertanya apakah masih ada stok yang tersisa untuk yang hari minggu walapun saya juga rutin membacanya dihari hari lainnya.sang loper selalu berkata ada apa berita di setiap hari minggu,ternyata di Batam Pos ada kolom Sastra di sana ada Kolom Abdul Malik dan juga Kolom Temberang milik Bang Husnizar Hood.


Sebenarnya di lembar kolom tersebut satu paket dengan beberapa kolom puisi yang ditulis oleh orang-orang serantau, namun jika berbicara kolom puisi mungkin sudah banyak puisi dan sajak yang dikirim kepihak redaksi atas nama Daud namun tak pernah muncul anggap saja belum Untung Sabut kata Pak Gubernur Kepulauan Riau di dalam bukunya,menanggapi hal tersebut anggap saja sabut yang ini lagi belajar bagaimana caranya untuk timbul dan mungkin umur sabutnya masih muda sepertinya masuk di akal ,namun yang terpenting mempunyai kemauan dan terus berusaha pasti bisa.



Sekilas dengan membaca catatan "Menjunjung Marwah Memegang Amanah" di facebook milik Pak Malik ini jadi ingat koleksi penggal koran setiap hari minggu senantiasa saya susun antara Kolom Budaya dan Kolom Temberang masih terlipat rapi di kotak dan sebagian lagi ada lembaran mingguan di koper yang selalu ku bawa untuk berjaga jaga jika ada sesuatu yang bisa menjadi rujukan.Sempat terhenti mungkin sang penulis fokus kepada studi atau risetnya utk diselesaikan dan lalu aktif kembal itu kata sahabatku di Tanjungpinang


Dengan keterbatasan jarak saya melanjutkan studi keluar daerah yang cukup jauh dari kampung halaman , jadi tidak bisa lagi untuk memilah-milah dan mengumpulkan lagi lembaran koran Batam pos itu,jika tidak silaf terakhir tepatnya pada tanggal 8 Agustus 2010 tidak lagi mengoleksinya, namun adanya media on line membuat kerinduan akan membacanya kembali seperti berada di kampung saya Kab.Karimun,Kepulauan Riau.bisa jadi kiranya para sahabat-sahabat yang jauh dapat juga membacanya walaupun terkadang tidak senantiasa uptudate.


Harap dimaklumi jika lagi musim belum up tu date karena kesibukan menjadi faktor sepertinya,saya masih ingat lagi perbualan singkat apa yang dikatakan Bang Husnizar hood waktu itu tentang cerita sebuah koran "Engkau mau tahu tak kenapa pencari berita dan wartawan itu paling takut sama orang cina atau orang kaya yang mati","entah tak tau Bang"saya langsung menjawab perkataan beliau,dan beliau langsung menjawab"Seluruh halaman muka di koran akan bertuliskan tentang Turut Berduka cita,habis kolom berita tak ade tempat lagi",kami pun tertawa terbahak- bahak karena berita akan terisi dengan berita kematian orang -orang hebat yang sanggup membayar lebih di sebuah halaman koran .


Dan ternyata Kolom itu telah dibukukan dan alhamdulillah kedua buku itu ada ditangan "Memelihara Warisan Yang Agung" dan Buku Kolom Temberang jilid yang pertama.walaupun buku jilid pertama didapat dengan menjadi tukang pembuat souvenir sampan yang tak seberapa itu dan tak selesai juga cocok rundingnya,semoga saja akan mendapatkan lagi kelak yang kedua sepulang merantau dari negeri seberang,namun buku Memelihara Warisan Yang Agung yang di beli di toko buku di batu Sembilan Bintan center itu sekarang berada di Pekanbaru karena ada seseorang yang sangat membutuhkannya katanya sebagai referensi.


Dengan adanya catatan dan media Facebook terlintas saya ada membaca sebuah judul yang tidak asing itu,dan menambah kerinduan untuk membaca Kolom Kolom yang ada disebalik Koran Batam Pos lagi,sesuatu yang berakar dan tumbuh berkembang menjadi sumber sumber ilmu dan wawasan buat para pembaca yang ada di pelosok negeri serantau,baik tulisan yang dikemas rapi layaknya sebuah artikel penelitian yang mempunyai bahasa tingkat tinggi, maupun ada juga yang hanya berupa cerita lelucon belaka yang semuanya itu bermakna dan memberikan sesuatu pesan moral dalam kearifan bermasyarakat.


Mereka itu Pak Abdul Malik dan Bang Husnizar Hood yang menjadi sang penulis semoga ada lagi para penulis atau satrawan yang mau memberi seperti mereka itu atau malah kiranya ada sastrawan yang masih berselubung kelak ada seperti mereka,berharap nantinya ada juga budak Melayu Kepulauan Riau lainnya yang mau bermimpi ingin menjadi Generasi yang mau memberi seperti Mahmud yang senantiasa risau akan kampung halamannya dan Madah pak Malik yang selalu bercerita apa adanya seperti "kenapa tidak pakai bahasa Bumbung",Bumbung itu sebutan atap rumah atau atap gedung,bahasa itu muncul pada saat ada peresmian memasang atap untuk gedung perkantoran tapi kala itu mereka menggunakan judul acara menggunakan bahasa asing bukan menggunakan kata kata Bumbung imbuhnya.



Salam Takzim
Al Fakir
Irwanto,Jakarta/2011

Senin, 23 Mei 2011

Tentang Syair (Ala Melayu)

Dizaman sekarang yang serba bulat simetris ,jelas padat terang benderang,eforia masyarakat pembaca dan penikmat sastra khususnya lebih menyukai sastra lebih modern, mudah dibaca dicerna dan instan untuk difahami,kesantunan dalam berbicara dan menulis semangkin lugas menusuk tanpa basa basi,namun itu semua bukanlah hal mutlak akan sesuatu yang menjadi indikator dari kesantunan berbahasa,karena pendedahan kata kata yang ingin disampaikan tidak lagi bermetafora dengan keindahan berkata-kata belaka dan telah beralih menjadi sesuatu yang semangkin serba ilmiah namun kesemuanya hal itu hanyalah sebuah akan pilihan,dan pilihan itu nyata dan berada ditengah-tengah kita.

Beberapa hari yang lalu sempat membaca dari apa yang di suguhkan sebuah karya dari sahabat di Tanjung Pinang,karya itu sebuah Syair,Jika kita berbicara Syair,Gurindam dan Pantun bahkan Hikayat sekalipun mereka itu termasuk kedalam sastra klasik Melayu di Nusantara,di zaman dahulu Syair khususnya menjadi sesuatu yang lazim dan biasa namun jika kita babitkan dengan lingkungan sekarang sangatlah menjadi sesuatu yang sedikit terasing,mudah-mudahan saja hal ini pendapat yang salah.


Adapun karya yang dimaksud adalah sebagai berikut:


Syair Bunian

Karya: Muhammad Febriyadi


Dengan bismillah kalam dibuka
meminta malam ulurkan bulan
dengarkan itu lolong Srigala
petanda datang Sabda Bunian


Hendaklah pandang kearah bulan
Sabda dihantar gurindam jiwa
tabuhkan gendang rayu bunian
Biar bernyawa tiada yang murka


Mahkota raja disamun sudah
bukan tak betul jatuhkan tahta
Binasa badan karena lidah
Apatah lagi menanam dusta


Suluhkan kami ditengah gelap
Biar tak sesat ditengah jalan
Sabda bunian Menyentap harap
hendak membuka tabir kebenaran

Mengangkat sumpah diujung malam
Tabir dibuka elakkan padah
Alhamdulillah penutup kalam
Sabda bunian timbullah sudah

TP.12052011



Dengan adanya Syair Bunian itu,jika kita melihatnya apakah sudah meggunakan adab penulisan dan kaidah nya telah di jabarkan?, mari kita kembali melihat jabaran akan Syair( Ala Melayu )yang pernah disinggung dalam sebuah karya besar di Kepulauan Riau ini,seperti apa yang sudah tercatat oleh Raja Ali Haji ketika itu "

Syahdan Adalah beda antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula bermula arti syair Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu pasangnya bersalahan dengan gurindam. Adapun arti gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya sahaja jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu jadi seperti jawab".

Namun bukan itu saja ada berbagai kaidah cara menulis Syair(Timbangan Syair) dan Pantun telah juga di jabarkan dalam bentuk tulisan berupa surat dan dapat kita lihat pada dokumen persuratan RAH,pada surat 5,baris 4-12,ditulis sekitar awal tahun 1860an dan telah ditempatkan pada salinan Bustanul Khatibin yang merupakan kitab buku tata bahasa Melayu yang tersohor itu.{Surat-surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall,2007}.

Dijelaskan pada Dokumen Timbangan Syair dan timbangan Syair ikat-ikatan yang dimaksud RAH juga memaparkan dengan rapi,di sini penulis hanya sedikit memaparkan tentang bagaimana Timbangan Syar itu sesuai kaidah-kaidah yang telah dibagi begitu ragamnya,sedangkan pada Syair ikat-ikatan tidak dijelaskan bagaimana cara penulisan akan kaidahnya,akan tetapi RAH hanya menuliskan bentuk akan syair ikat-ikatan itu saja dalam bentuk karya nya saja yang berjudul "Syair Dua Belas Puji",secara sederhana penulis ingin mengingat kembali berdasarkan sumber dari Dokumen persuratan lama yang telah menjabarkan tentang Timbangan Syair Ala Melayu.



"Dokumen syair I,Timbangan syair"

Ini satu kaidah memperbuat syair Melayu.Ketahui olehmu hai orang yang berkehendak kepada memperbuat syair Melayu atau Pantunnya maka maka hendaklah mengetahui dahulu kaidah timbangannya dan sajaknya dan cacatnya,(2)Karena tiap-tiap pekerjaan tiada dengan ilmu dipejarkan kepda ahlinya maka tiada sunyi dan daripada tersalah dan cacat.Maka dengan ini aku perbuatkanlah satu kaidah yang akan boleh menjadi penjagaan siapa-siapa yang berkehendak pada mengarang syair melayu,(10),Bermula kesempurnaan syair Melayu itu yaitu tiga perkara,Pertama cukup timbangannya;kedua,betul sajaknya;tiga,tiada cacat dengan sebab berulang-ulang apalagi janggal,Itulah aku perbuat tiga pasal.



Bahkan RAH juga memberikan beberapa panduan beserta contoh-contoh yang semestinya dalam menuliskan Syair sesuai pembagiannya .

Pada pasal yang pertama "Cukup Timbangannya"dinyatakan ditulis dengan empat misra'(baris) dan setelah itu disusun menjadi kalimat yang setiap barisnya terdiri dari empat kata- kata,mungkin disini RAH menjelaskan Syair yang mendekati kesempurnaan itu jika setiap barisnya terdiri dari empat kata.

dengarkan tuan suatu rencana
barangkali ada yang kurang kena
dikarang fakir dagang yang hina
tuan betulkan jadi sempurna


Pada Pasal yang kedua,"Betul sajaknya" disini kesempurnaan setiap kalimat mesti disesuikan dengan sajak disetiap pemilihan kata kata yang sesua.RAH menguraikan dalam setiap persajakkan dibagi atas dua hal:



(1)Pertama;yang terlebih bagus ,Adapun yang terlebih bagus yang serupa jatuh dahulu dahulu dalam akhir misra'nya itu,yaitu misalnya:

dengarkan encik dengarkan tuan
dengarkan saudara muda bangsawan
nafsu dan hawa hendaklah lawan
supaya kita jangan tertawan

(2)Kedua;yang kurang sedikit bagusnya akan tetapi betul sajaknya,inilah misalnya:

ayuhai saudaraku yang pilihan
menuntut ilmu janganlah segan
jika tiada ilmu dibadan
seperti binatang didalam hutan





Pada Pasal yang ketiga "Menyatakan Syair yang cacat",dalam kecatatan Syair itu RAH membagi dalam tiga hal;

{a}Adapun cacat pada timbangannya(perli dilihat ada tidak kecacatan pada bentuk kalimat sajak dan yang bukan menjadi satu kesatuan kalimat sehingga sesuai makna dan maksudnya serta masih dalam satu tema yang logis).seperti dicontohkan yang benar dibawah ini;

hai sahabatku yang berakal
hendaklah kamu rajin tawakal
janganlah kamu lalai dan nakal
ketika mudamu menjadi bekal



{b}.Adapun cacat yang berulang-ulang yang bukan Ta'kid,(Maksud yang dijelaskan dalammenggunakan kata-kata yang selalu diulang-ulang dalam pemilihan kata di akhir barisnya yang ada dalam empat baris penggalnya,RAH mencontohkan pada kata-kata "Aduhai","Caharilah" dan"Tuan" ),seperti contoh syair yang telah dipaparkannya:

ayuhai encik ayuhai tuan
caharilah sahabat carilah kawan
menuntut ilmu apalah tuan
menuntut bersama sertamu tuan



(c)Adapun cacat pada maksud tiada cacat kepada sajak,(dalam pembagian kecacatan Syair yang ketiga RAh juga cukup memberi keleluasaan dan teliti,syair yang sudah benar dalam sajaknya akan tetapi tidak di ditopang dengan maksud dari kesatuan akan kalimat nya),dicontohkan;

dengarkan tuan suatu peri
mengenangkan untung nasibnya diri
didalam laut hiu dan pari
mukanya manis berseri seri



Disini kita bisa diambil kira bagaimana mau menulis Syair,semua telah dicatat berdasarkan kaidah-kaidah ala Melayu,dalam kadah menulis Syair lazimnya berakhiran AAAA,terdiri dari empat baris yang berima,akan tetapi dalam teknisnya dibagi bermacam-macam hal yang bisa dijadikan rujukan.


Dahulu syair dihasilkan berisikan sebuah cerita atau novel tapi ala melayu yang berisi lambang dan kiasan yang bermetafora ,ada juga berisikan Hikayat sebuah tokoh,maupun gubahan cerita nyata tentang tokoh-tokoh besar seperti kisah Nabi Muhammad.SAW,yang telah digubah oleh Raja Ali Haji seperti Syair "SINAR GEMALA MESTIKA ALAM" kesemuanya itu mempunyai pesan moral yang dapat digambar atau dipaparkan bagaimana tingkah laku keindahan kebiasaan seni tulis pada masa di zamannya.

Adapun contoh Syair orang dahulu Penggal Syair RAH yang masih saja dapat di nikmati hingga saat ini sebagai contoh pada penggal Pasal ke 6(enam) Syair Sinar Gemala Mestika Alam yang dimaksud sebagai berikut:



Fasal 6.

tatkala sampai umur empat puluh
dibangkitkan Allah jadi pesuruh
mendirikan ugama yang amat teguh
segala ugama habislah runtuh.

tiadalah diterima ilahul ‘alam
selain daripada ugama Islam
dimulai dengan ra-itul manam
seperti cahaya falak-ul subhul ikram.

hikmatnya jangan ia terperanjat
akan melihat malaikat yang hebat
yaitu Jibrail malaikat yang kuat
jadi suruhan rabbul kainat.

kemudian daripada itu halnya
menjauhkan diri daripada kampungnya
suka bersunyi seorang dirinya
di bukit Hira’ konon khabarnya.

bagi Bukhari punya perkataan
di jabal Hira’ kira-kira sebulan
li ibni Ishaq pada bulan Ramadhan
keduanya itu riwayat handalan.

pada malam tujuh belas lailatul qadriyah
malaikat Jibril pun datanglah
katanya’ iqra makna bacalah
jawab nabi yang dibaca apalah.

dipeluk Jibrail serta dipicitnya
katanya ‘iqra dengan sesungguhnya
dijawab bagaimana bacaannya
dipeluk jibrail serta diajarnya.

katanya ‘iqra bismirabbika
membacalah nabi tiadalah leka
kemudian dari itu beberapa ketika
.

kemudian Jibrail datang semula
membawa firman Allah ta’ala
ya ayyuhal mudatsir dibacakan pula
kemudian yang lain Qur’an yang a’la.

Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi

Raja Ali Haji ibni Raja Ahmad (1809-1873)
P. Penyengat, Kepulauan Riau


Karya klasik yang ditulis berdasarkan kaidah-kaidah indah dalam penulisan,kuat dalam semantik nya dan yang terpenting adalah pesan moral yang menjadi suatu permasalahan atau sesuatu yang ingin disampaikan,secara umum memang Syair digubah menjadi gubahan yang indah indah itu menjadi suatu cara atau metoda penyampaian yang dinukilkan penulisnya.


Ketika saya disuguhkan sebuah karya Syair oleh saudara Febriadi dari Mahasiswa dari UMROH Tanjung Pinang menurut saya ini merupakan suatu bentuk karya gabungan antara Syair yang bersajak dan Pantun sehingga membentuk suatu karya yang kontemporer paduan antara kedua sastra klasik tersebut,gubahan di atas indah menawan dan berkarakter dengan unsur semantiknya.


Semestinya karya - karya seperti terus bermunculan seiring perkembangan zaman,akan tetapi ada yang perlu dipertimbangkan semua itu menjadi pilihan tetap terus menjage kaidah-kaidah karena semuanya mempunyai batas batas dan tempatnya masing-masing,bagi saya teruslah mengadun tepung tepung sastra itu,baik tetap berpegang teguh bertembunikan Ala Melayu maupun berupaya mengolahnya dengan bungkusan yang menarik lainnya,karena akar sudah menusuk kebumi mengakar luas di setiap elemen masyarakat yang berbudaya di Tanah Melayu ini khususnya di Kepulauan Riau.


Syair bukan milik Raja Ali Haji,Abdullah bin abdul kadir Munsyi atau tokoh lainnya semata ,Sastra Klasik itu milik kita semua sebagai anak negeri berhak memilikinya ,sudah banyak anak negeri telah bergelut pada jenis sastra bentuk Syair ini khususnya di Kep.Riau sebagai contoh ada saudara kita Irwan Jamaludin,Muhammad Candra ,Yoan Sutrisna Nugraha CHt dan Irwanto yang pernah membuat Syair,maupun banyak lagi saudara saudara yang lain menggelutinya.contoh karya satra klasik lainnya seperti Gurindam telah ditelurkan oleh saudara kita Rendra Setyadiharja.S.Sos dan mungkin masih banyak belum kita ketahui diluar sana.


Untuk itu jangan kita masih beranggapan Syair,Gurindam Pantun itu punya RAH saja maka tali estafet penerus Sastra Klasik ini akan pupus terputus dalam bentuk penobatan belaka.dan tidak adanya upaya kerja-kerja pelestarian atau upaya pengenalan.


Sebuah karya sastra merupakan suatu gambaran suasana maupun lingkungan dikala itu,namun realitas karya tersebut apakah bisa bergulir bersamaan dengan jenis karya sastra Moderen dan kontemporer yang sudah berkembang pesat saat ini ,itulah sebuah wujud eksistensi bersama jika kita berbicara upaya pelestarian sungguh sangatlah berbeda dengan bagai mana cara mempertahankan.


Al Fakir
Irwanto,Mei,2011

NB:

a)catatan di atas hanya sekedar cerita belaka,jika ada salah kata dan ucap mohon tunjuk ajarnya,semoga ada yang bisa diambil kira,.Juni/2011

b)revisi ke 2,{penambahan timbangan syair sesuai Dokumen yang ditulis oleh bapak Bahasa RAH}

Sabtu, 26 Maret 2011

"PELANTAR KUSAM Dan AKUARIUM SASTRA Di Kepulauan Riau"

Pelantar Kusam yang ada di Tanjung Pinang merupakan salah satu Akuarium Sastra yang ada di Kepulauan Riau,dan Mungkin masih baru jika kita bandingkan dengan Akuarium Sastra Yang lain tentunya,sebuah pelantar yang menjadi tempat bertelur sastra,yang tidak peduli telur itu dibawa sipetelur sastra dalam proses proses yang tidak terikat dan mengikat,dalam setiap detik,menit,jam,hari,bulan tahun,bahkan sampai bertahun tahun telur itu akan ditelurnya,semua itu tidak terlepas kepada kedewasaan dan rasa sayang serta tanggung jawab akan menelurkan telur itu.


Pelantar kusam juga sebuah lembah oase bagi sigurun,gunung bagi si awan,dan akuarium bagi ikan ikan sastra yang bergumul dan berkumpul menari nari memainkan tarian kata kata menyusuri tiang tiang pancang yang menjulang karya karya terbaiknya,baik buat karyanya sendiri atau pun untuk orang lain serta tidak mengira dapat dinilai oleh sesuatu yang mempertegas di setiap deburan ombak waktu yang ada.


Di Akuarium sastra jika ingin menetaskan sesuatu barangkali ada hal hal yang mesti diperhatikan,menetaskan sudah pasti menempatkan kelembapan,perlindungan dan ancaman dari telur yang tidak bisa bertahan untuk menetas dan menetaskan.


Namun jika pun ingin menetaskan telur itu pastilah ada orang orang yang senantiasa dapat membantunya seiring dan sejalan,jika kita kaitkan dengan berbicara didunia kesehatan apabila ingin menetas membutuhkan bidan bidan yang dapat membantu menetaskan telur telur sastra.


Jadi siapakah bidan itu{penerbit indi,reguler,organisasi,pemerintah},namun untuk menambah eksistensinya lebih baik diperlukan juga seorang bapak{pengamat/kritik sastra,akademisi,organisasi sastra} yang baik pula bagi si ikan agar dapat menjaga telur telur itu,walaupun berbicara sebuah seni dan sastra sekalipun tidak ada yang mengekangnya karena sastra itu tidak bisa di adili.


Nah apapula hubungan pelantar kusam dengan Akuarium sastra di kepulauan Riau,akuarium itu dianalogikan dengan sebuah masyarakat pembaca,peminat,penikmat akan sastra,sudah barang jadi akurium itu sendiri mempunyai batasan batasan tersendiri dalam dunianya walaupun berbicara akan seni semua itu dapat dinikmati oleh semua elemen masyarakat akan tetapi sekali lagi batasan yang dimaksud adalah komunitas atau kelompok tertentu yang membidanginya.


Sehingga keberadaan Akuarium sastra dikepulauan Riau dapat terjaga dan terrawat dengan baik bagi sipetelur,sibidan maupun si bapak,kira kira harapan apa yang bisa diambil dari sebuah perbualan ini,para penggiat pastinya lebih mengetahui apa yang pantas dilakukan untuk kedepan yang lebih baik,jikalau bisa jadikan sebuah akuarium ini lebih besar seperti besarnya Laut,disana ada pelantar,lembah lembah ,gunung gunung pohon dan lain lain.sehingga dapat mendapatkan tempat pada masyarakat pembaca diakuarium akuarium yang lain.


Sepertinya kita sudah mengenal sebuah bait puisi yang dikatakan oleh SUTARDJI CALZOUM BACHRI,"wahai pemuda mana telurmu",maka dari itu bertelurlah.sama ada mau menetas atau tidak tang terpenting saat ini kita sudah bertelur dan bertelur.



Irwanto,Jakarta,Maret,2011

Kamis, 23 Desember 2010

"Tradisi di Taman Penulis {Writing Garden}t"

Sebenarnya berbicara Pulau Penyengat itu bukan barang baru,telah banyak diulas dan di ulang kaji dipelajari baik para penggiat sarjana ataupun tokoh - tokoh budayawan dari lokal maupun luar negeri. Pada jurnal buku Warisan Dunia Untuk Indonesia "Pulau Penyengat menjadi saksi sejarah akar tradisi keilmuan dan tulis menulis.Pada tahun 1787, selain menjadi pusat Pemerintahan Kerajaan Riau - Lingga,Pulau Penyengat merupakan salah satu tempat pengembangan agama,kaum intelektual dan tradisi tulis menulis", untuk diketahui bersama para penulis yang banyak berkontribusi pada zamannya adalah di lingkungan kerajaan itu sendiri termasuk para Raja Raja dan Keluarganya maupun sebagian kecil dari masyarakatnya dan itu telah terjadi berabad yang lalu.


Jika kita mengulas kembali untuk kita ketahui bersama nama lain dari pulau penyengat disebut dengan Writing Garden {Taman Para Penulis} sebutan oleh orang Belanda berabad - abad yang lalu, sungguh Pulau Penyengat pulau yang penuh berbau kesastraan,para tokoh sastrawan,tokoh heroik,cikal bakal organisasi pemuda,hukum.kamus tata bahasa dan lain lain sebagainya, mungkin sebutan itu tidak dinafikan juga tergambar pada sebuah karya, realisasinya tertuang dalam karya karya besar Raja Ali Haji, namun secara tegas lagi dapat kita lihat kenapa sebutan orang orang Belanda itu,mungkin tidak lain adanya buah karya RAH yaitu kitab Bustanul Al-Katibin yang bermaksud tidak lain Taman Para Penulis. mempertegas Pulau Penyengat layak diberi nama yang demikian.


Akan tetapi dalam tradisi tulis menulis itu yang ingin saya sampaikan perkara yang sepertinya mustahak yaitu adanya beban moral yang ada dalam khazanah tulis menulis itu sendiri Khususnya di Kepulauan Riau.walaupun kita ketahui seiring sejalan sudah banyak upaya upaya orang yang berkepentingan dalam menjaga tradisnya.Dan tradisi itu masih mengakar setiap zamannya walaupun tandemnya mungkin sudah bergeser ke kota Tanjung Pinang dan Sekitarnya, sudah banyak orang orang atau anak anak muda yang menekuninya, walaupun penggiat pelaksana dan komsumennya semangkin lama semangkin sedikit dalam segi jumlah ataupun karya,semoga saja asumsi saya tidak tepat.



Dan memikul beban sastra di Kepulauan Riau khususnya Tanjung Pinang sebenarnya sangatlah berat. Dalam keterbatasan yang ada saya selaku penulis kiranya bebean moral itu jadikan suatu momentum yang baik dan kita jangan berbangga hati dengan status yang diberi itu,Tradisi Menulis memang sudah ditinggalkan orang orang pendahulu dan merupakan waris leluhur yang mesti dijaga dan dilestarikan {berkesinambungan} akan tetapi jika tidak ditopang dan dikenalkan oleh waris warisnya apa yang akan terjadi.



Al Fakir
Irwanto,19/12/2010

Minggu, 12 Desember 2010

CATATAN INFORMASI SEPUTAR SASTRA "PELANTAR KUSAM DI KOTA TANJUNG PINANG"

Oleh:Irwanto

Informasi “Penyair Muda Riau, baru saja meluncukan buku Antologi Puisi Penyair Muda Riau Tahun 2010 di Taman Budaya Riau tadi malam, dan diisi dengan telaah sastra yang didedahkan oleh Tuan Syaukani Al-Karim”.


Penyair Muda Kepulauan Riau bisa seperti itu,bukan mengikuti akan tetapi mengambil semangat yang bermanfaat saja,mudah mudahan dalam waktu dekat dengan usaha Saudara Rendra dan Raden Yoan atau rekan rekan yang lain,dalam keterbatasan komunitas ini dapat sedikit banyak kelak mampu menjawab,harapannya adalah dapat sekaligus ditelaah dengan tendensi Kesusastraan dengan orang orang tua kita Lokal di Riau Kepulauan maaf Red,(saya tidak mau menyebutkan satu persatu).sehingga evaluasi dapat dirasakan secara efektif dalam pendekatannya.


Saya merasakan Pelantar Kusam yang ada di Kota Tanjung Pinang adalah tolak ukur awal Komunitas Sastrawan muda Riau Kepulauan yang menjadi Lakon penting dalam menunjang Sastra Kepulauan Riau itu sendiri ,sehingga dapat berkomoditas dan memberikan alur yang berguna dengan generasi yang sedang tumbuh dan terus berkembang Mungkin saja kelak dapat mewarisi estafet sastra di negeri ini ,karena Riau Kepulauan adalah mukim nya kawasan budaya dan tamaddun kesusestraan.


Untuk itu pekerja seni berbicara dengan sebuah karya apakah karya itu dipublikasikan atau pun tidak itu tidak juga menjadi hal penting,hanya saja jika bersifat menyangkut sebuah tolak ukur sastra dan membidangi sebuah komunitas yang berpotensi maka karya sangatlah penting ,seperti yang dituturkan Pak Rida K Liamsi,.."Karya adalah Sebagai sebuah dokumentasi peristiwa dan catatan perjalanan sebuah bangsa".Namun jangan lupa kodratnya dengan tidak memaksakan,karya butuh perincian matang dan dikemas baik.


Catatan ini hanya sekedar informasi dan penyemangat khususnya buat saudara saudarku di Pelantar Kusam yang saya banggakan.{Jakarta/12/12/2010}

Sabtu, 30 Oktober 2010

"PERBEDAAN"

Sepertinya kita sering melihat membaca bahkan mendengar beragamnya hasil dari sebuah karya sastra,"karya sastra adalah segala tulisan atau karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah";sumber/RA/2007, Untuk itu dalam kesehariannya sastra itu sendiri mempunyai arena dan perannya masing-masing, juga dapat membentuk pula suatu jaringan yang terpola akan tetapi dapat dikelompokkan menjadi satu peran di arena seni sastra itu sendiri,dengan kata lain mungkin benar adanya apa yang dikatakan Sutardji CB,dan juga pernah di ulas Husnizar Hood"penyair itu serupa tapi berbeda beda"


Sebuah karya sastra itu merupakan buah pikir atau karya dari interpretasi seorang penyair atau penulis itu sendiri,maka hal yang dipandang perlu dan tidak bisa gugat adalah seorang sastrawan menpunyai bahasa akan tetapi disini terdapat suatu perbedaan dalam jenis,perbedaan itu sesungguhnya mempunyai ciri dan identitas yang berbeda beda pula.namun hal yang paling mendasar tentunya nilai,tema dan cara yang menyatukan kita dalam bentuk persamaan yang positif yaitu bermanfaat dapat di rasa dan dinikmati sesama justru itulah yang menyatukan kita dalam persepsi perbedaan.


Didalam perbedaan itu Peranan lingkungan peran penting seperti para pembaca,penikmat,komsumsi pribadi dan masyarakat menjadi acuan yang ada ditengah tengah perbedaan yang ada.Lalu apa yang membuat sebuah karya itu dapat bersenggama dengan lingkungan,tiada lain adalah bahasa dengan kata lain mempertahankan dan memperbaiki bahasa dalam posisi karya sesuai tendensi orientasi dan proses kepengarangannya merupakan kontribusi yang sangat berharga.Beragamnya dinamika kepengarangannya yang didapat dari persepsi serta interpretasinya itu maka sebuah perbedaan mutlaklah ada dan menjadi ruang ruang yang masih menjadi satu pintu atau terpetak petak masih dalam satu petak.


Dawat Pena Riau juga berkata,"Semua penyair dan sastrawan hanya mempunyai bahasa akan tetapi dalam praktiknya mempunyai beragam orientasi,baik itu dalam komunitas kecil besar dilingkungan sekitarnya atau pada group graup lainya".


Semoga keberagaman ini tidak menjadi momok bagi pekaryanya akan tetapi keberagaman yang ada dijadikan sebuah kontribusi nyata dalam sebuah karya.


Al Fakir
Irwanto,Jakarta,Oktober,2010

Selasa, 13 April 2010

”bila ada budak merasa melayu ingin memegang Gambus”

Waktu itu Saya berada di Tanjung Pinang tepatnya diTahun 2000.kami memang dulu sering ke Kota Gurindam,semasa saya masih kuliah diBatam sering juga berkunjung. Batam dan Tanjung Pinang itu dekat kalau kita mau minum secangkir kopi belum habispun kita sudah sampai disana.Saya sering diajak rekan menyebrang ,pagi itu karna kebetulan saya dan sahabat saya ingin pergi melihat festival musik diTanjung Pinang,tepatnya di depan balai adat Pulau Penyengat, “Pulau Penawar Rindu”.

Ketika saya berada disana masih ingat dengan sesuatu hal yang masih mengganjal dibenak kepalaku,ini tidak ada hubungannya dengan kemuliaan akan pulau Penyengat yang kontemporer dan bersejarah itu,pulau yang seandainya terputar waktu,kita masih berada pada jamannya, maka alangkah merasa berbangga diri,kita langsung di diceritakan,dokumentasikan
oleh keadaan secara objektif, tanpa alur sajak-sajak yang selama ini kita dengar dan didengarkan.

Tapi sebenarnya hal ini hanya sebuah kegelisahan dan kegundahan sebuah pertanyaan yang di sebutkan kepada saya,boleh dibilang merupakan kata ucap Sara kepada suatu kaum atau suku sakat apalah.

“Tergamak” kata orang Melayu,dikeheningan petang.Datanglah seorang pemuda mendekati kami,sepertinya sesama penggemar musik,dia berkata kepadaku:

“Awak orang mane,budak mane megang-megang gambus,bise main ke tidak…!!,kalau awak budak melayu atau berketurunan Raje-raje atau pemuka dan Pembesar Adat,maka biasenye pandai memainkannye”

Apakah pertanyaan itu tadi spontanitas atau sekedar mengetahui menunjuk ajar,saya pun tidak tahu.Memerah padam mukaku,sapaan seorang pemuda tempatan asli orang pulau disini,menegur dengan teguran lurus,tajam tepat di tengah-tengah kosong hati.Memang kalau berbicara Gambus itu, hatiku berbicara lain walaupun hanya bisa ku sentuh dan ku pegang sahaja,apakah lagi bisa memainkannya.

Alat musik titipan jaman, yang hadir karna tangan tangan seniman dan petinggi-petinggi yang arif di jamannya.Berevolusi menyelip dikeadaan sebuah Kultur sesuai dengan kesepakatan pada jamannya dahulu .



Salam tegak dari Saya,……………………

”Perkenalkan, saya lahir di bumi berazam”

“Pulau yang terserak arai,dipisahkan banyak dengan laut”

“Didekatkan dengan sampan dan kapal- kapal kayu”

“Dihijaukan dengan hutan bakau,kebun-kebun,petak-petak sekat pokok-pokok kelapa dan getah”

“Saya budak pinggiran bukit yang merasa tinggal ditepi laut”

“Saya penikmat pesisir pantai tapi bukan tuan tanah dipinggir pantai”

*********************************************************************

“trimakasih pertanyaan,saran dan sanggahannya akan tetapi saya ada yang kurang sepakat dengan beberapa bait-bait yang disebutkan”

“Boleh saya mengajukan pertanyaan kembali kepada saudara”


Maka ditanyakan kembali pertanyaan yang akan di katakan :


“Kalau boleh….?!!.Saya bertanya kembali kepada saudara yang Arif”

1.Apakah para kaum kerabat diRaja atau Kesultanan yang ada diTamadun Melayu Riau, Johor dan Lingga pada waktu itu,Sanak dan Keluarga diraja pernah mementaskan pegelaran seni memberikan persentase kesenian ke hadapan Raja atau Sultan.

2. Apakah para kaum kerabat diRaja atau Kesultanan yang ada diTamadun Melayu Riau, Johor dan Lingga pada waktu itu, mempunyai sekelompok penghibur kerajaan yang dilakukan atau dikelola oleh para Sanak dan Keluarga diraja.

3. Apakah pada jamannya Raja atau Kesultanan yang ada diTamadun Melayu Riau, Johor dan Lingga pada waktu itu, banyak rakyat jelata atau masyarakatnya sendiri yang sering memberikan persembahan atau hiburan dihadapan Raja pada setiap jamuan-jamuan yang ada.

Saya hanya sekedar bertanya,disebabkan dengan keganjilan sebuah bait bahwa berbicara seniman dengan seninya atau apakah itu.

Saya bukan seorang penyair seniman atau apa ,hanya saja janganlah memandang sesuatu seni kesenian itu melibatkan suatu suku ,ras atau puak-puak tertentu.jika boleh diambil jalan lurus.Saya beranggapan Apakah benar justru orang-orang yang lebih banyak berkecimpung didunia musik-musik tradisional pada jaman dahulu adalah masyarakat jelata,orang-orang yang tidak berkaitan langsung dengan bergelar berdarah biru.Semoga saya tidak salah menafsirkan,karna saya memang bukan ahli tafsir,tidak semua orang bergelar mau mengenal dan tahu akan memainkan suatu alat musik.

Pementas seni,pemain musik atau seniman pemusik Gazal ,zapin,penari –penari seni Melayu atau mungkin yang lain-lainnya pada jaman dahulu,merupakan suatu kelompok penghibur yang derajatnya tidak lebih dan kurang adalah sekelompok penghibur semata.Jadi kurang setuju dan sepakat jika ada Orang jaman sekarang memberikan statemen seni seniman dan kesenian itu harus bergelar berdarah Raja atau Sultan.

Mudah-mudahan artikel ini hanya sebagai tanggapan sahaja.jika ada kesamaan tokoh atau pemeran ,silap dan salah datangnya dari saya,
**Salam………**


Disempurnakan,diketik setelah ada yang mengingatkan Ku kembali akan pertanyaan itu…Irwan2pd/Note,21 Desember 2009.

Artikel :”bila ada budak merase melayu ingin memegang Gambus”