Rabu, 25 April 2012

Pekak, Iklan dan Sepak Bola

Musim bola seperti malam ini, semangnya dalam lubuk hati yang paling dalam Daud memang ingin sekali menghidap penyakit Pekak, pasalnya sudah menjadi tradisi, Tok kawan selaku orang yang telah dituakan dirumahnya akan menugaskan Daud untuk membeli Yang Hitam, bukan arang bakar atau abu gosok, tapi sebungkus gula dan kopi, tapi tabiat itu dibuangnya jauh-jauh, jangan sampai tidak ditunaikan anggapannya akan menjadi malapetaka, berdosa jika kita tidak membantu orang tua, itulah Daud yang tak seberapa hebat itu, sedara saya itu macam manapun sedaya upaya akan ditunaikannya, walau mata ngantuk, penyakit malas kukangnya lagi menjangkit apapun itu, sekali lagi itulah Daud memang anak yang baik berbakti kepada yang tua.



Rumah Haji Sangkut, TV 29 inci buatan jepang itu menjadi saksi warga kampung, begitu juga mereka berdua, pentas laga yang bergensi se Eropa itu menjadi pertandingan yang wajib ditonton para pecinta bola, semula sebelum acara berlangsung kiranya penonton disuguhkan iklan-iklan yang bergilir, bukan saja iklan tapi, diantara penonton.



"Kita percayakan saja sama pemerintah pusat" pekik seseorang. Dialah Wak Sikut, baru saja pulang kampung, selama ini beliau merantau jauh kenegeri jajahan Belanda itu, Berbicara transportasi masal dinegeri bekas jajahan Belanda ini, katanya lantang mengkisahkan beragam cerita bahkan pemahaman yang multi tafsir bahkan multi dimensi, kiranya orang-orang yang banyak menumpuk hingga tumplek menjadi satu, sudah pasti memiliki perbendaharaan para cerdik pandai, begitu juga sarana dan prasarana yang mendukung. sehingga semua itu dapat berfikir keras dan mencari jalan keluar atau minimal mengurangi dampaknya, tapi itulah potret negeri ini, kata orang yang tinggal di belakang singapura "habok".



Kemudian beragam pembicaran misalnya ada politisi yang ditunjuk untuk memimpin pemain senior sepakbola negeri ini, yang lain dan tak bukan masih keluarga besar PSSI, disana sini protes berdatangan, katanya alangkah lebih baik dipimpin oleh orang yang tak ada sangkut pautnya dengan politik, apa mau dikata , bola menjadi salah satu kenderaan yang baik ketika ini untuk melaju kehadapan, entah melaju kemana agaknya, sudahlah mari kita sekali percayakan kepada orang yang telah ditunjuk.


Daud dan Ramli yang mendengar diam seribu bahasa, katanya " ini kelas berat, macam kita Ramli tak dapat nak gaya", lalu lampu pun mati, nampaknya belum selesai kita bicara soal masalah transportasi yang entah kapan selesainya, PLN pun masih memberikan penerangan bergilir, bukan pemadaman bergilir seperti informasi petugas radio lazimnya itu.


Wak Sikut tampak berang, tapi apa dikata Haji Sangkut satu-satunya orang yang memiliki TV dikampung ini gratis lagi, mari kita berdoa semoga Haji Sangkut diberikan kemakmuran lebih membantu yang lemah, dijauhkan malapetaka, dapat memperbaiki Gengset (mesin listrik) supaya dapat menyala lagi. karena apa jika orang-orang kampung berdoa dan mendoakan kebaikan Tuan yang punya kemampuan, insyaallah diberikan kemudahan, jika kedua belah pihak tidak saling mendoakan . banyak memaki hamun dan saling menyalahkan dan no action, alamat kapal akan tenggelam ye tak Daud, kata Ramli bukan saya ye Tok.



{d}april 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar